Whatever you want...

Friday, January 20, 2017

Kala Kita

| No comment
KALA KITA
A SHORT MOVIE

Story by:
Anggi dan Gide


EXT – KAFE, SORE KEEMASAN

Music in: Moon River, Audrey Hepburn 

FADE IN

Bokeh. Suasana kafe yang hangat. Beberapa footage tentang lampu, dinding, kopi, dan orang-orang di sekitarnya. Suara gelas dan obrolan. Tertawa. 
Lalu laptop. Seorang pria menyesap kopinya, lalu kembali pada laptop dan beberapa bukunya. Sesekali dia melihat handphonenya, mencari dan menyarikan beberapa data dari situ ke tulisannya. Es vanilla. Tak terganggu dan tak nampak ingin diganggu.
Seorang gadis berjalan menghampirinya. Kita hanya  melihat punggungnya, dan rambutnya yang bergoyang pelan bersama musik. Slow motion. Semua di sekitarnya memburam. Sepatunya. Lalu tas besar di pinggangnya. Gaunnya terusan bunga-bunga. Fresh dan anggun sekaligus. 
Mereka bertatapan. Sang pria tersenyum. Melepaskan kaca matanya. Sang perempuan, masih kita lihat dari belakang, mengikat rambutnya. Lalu duduk. Dan kita melihat dia tersenyum. Manis. 

GADIS
Maaf. Lama ya?

PRIA
(menyentuh gelas esnya) Sudah dingin.

GADIS
(tertawa) Belum mencair.

PRIA
Kamu tahu tempat ini? (menunjukkan handphonenya)

GADIS
Jember kan? Kampung egrang.

PRIA
Tanoker. Ledokombo. Mereka kayak membawa kenangan-kenangan masa kecil dan mengangkatnya jadi cerita lokal yang bisa … ehm … ditawarkan kepada pengunjung. 
Kemarin aku nemuin yang gini juga di Jogja. Watu Lawang.
Eh, udah pesen?

GADIS
(mengangguk)

PRIA
Jadi mereka itu satu RT di daerah Mangunan. Deket Hutan Pinus Imogiri. Mereka ngusahain kayak tempat wisata, tapi swadaya gitu. Jadi tanah itu mereka hibahkan untuk dikelola RT. Ya mereka kerja bakti, terus gantian jaga parkir. Yang jualan ya dari RT itu.

GADIS
Semua dikelola sendiri?
PRIA
Semuanya! Jadi mereka yang kerja di sana ya dibayar pake uang parkir dan toilet.

GADIS
Uang toilet. (tertawa)

PRIA
Tapi lumayan lo, satu hari itu kalau lagi ramai ya sampai 3 jutaan. Padahal itu baru dibuka empat atau lima bulanan ini. Seminggu satu orang dapat 200 ribuan lah. Untuk penghasilan tambahan dan baru, itu gedhe.

GADIS
Bayangin lima tahun lagi. Tempat itu bakalan seramai tempat-tempat lain di Jogja. Dan mereka bisa hidup dari situ.

PRIA
Dan tambah sesak. Sampek bikin mules. (tertawa) Kemarin aku ke Kali Biru dan nunggu antrian foto

GADIS
Kamu dateng waktu peak season sih. Dan itu ... penderitaan.
Tapi aku gak tahu ya. Jogja itu kadang kayak punya ceritanya sendiri. Yang ya ... gak masuk akal. Bayangin aja di tengah situasi kayak gini, masih ada yang ngasih tanahnya buat dipakai tempat macam gitu. Itu kan gila!

PRIA
Para penyintas. Survivor!

GADIS
Cerdas kali. Itu gak Cuma bertahan hidup. Tapi juga mengukir ... mantra buat diceritakan ke anak cucu.
Eh tahu kampung warna-warni di bantaran sungai di Malang itu gak sih?

PRIA
(menggeleng)

GADIS
(mengambil handphonenya)
Entar ...
Gila panas banget, ya!

PRIA
(mengangkat gelas es vanillanya)

GADIS
Sialan aku salah pesen. Cappuccino. (masih tetap berselancar dengan handphonenya)

PRIA
Kamu apa yang gak salah. Tuh anting Cuma dipake sebelahan.
GADIS
Masak sih (meraba telinganya) ... Gak kali! Sialan!
Nih lihat. (memberikan handphonenya) Ini itu ada di pinggir sungai belakangnya Ramayana. Kalau dari stasiun terus ke selatan.

PRIA
Oh yang kalau malam jadi pasar maling itu?

GADIS
Nah bener! Jiah! Yang diinget pusat barang bekas. Orang usang mencari yang usang.

PRIA
Survival is exotic, u know! (memberikan handphone sang gadis)
Itu mirip kampungnya Romo Mangun di Code. Dulu juga berwarna-warni gitu. Yah tapi sekarang, setelah Romo Mangung meninggal, balik lagi jadi kampung lusuh. Bahkan gak sedikit dari mereka yang mengecam Romo Mangun gara-gara mengerjakan sesuatu gak tuntas.

GADIS
Habis ikannya, kolamnya dibiarin kering.
(diam)
Dapat berapa halaman? (melihat laptop si pria)

PRIA
186.

GADIS
Kemarin itu berapa? 150an ya? (Tertawa) Gak berkembang.

PRIA
Riset kali.

GADIS
Dan selesainya sampai akhir jaman.

PRIA
Da Vinci aja waktu meninggal masih banyak karya-karyanya yang gak sampai diselesaikan.

GADIS
Tapi minimal dia udah nyelesein Mona Lisa sama The Last Supper yang fenomenal. Lah kalau ini? Bertelur aja belum kelar-kelar. Untung kalau telurnya beranak.
Ahhh ... aku pingin ke Sistin Chapel.

PRIA
Ke Jerman aja gak jadi-jadi.

GADIS
Sialan! Gak usah bawa-bawa itu lagi. Ah ngeselin!

Dan cappucino si gadis datang.

GADIS
Makasih mbak!
(meminum) Not bad! Cuaca panas gak ngefek. Kalo enak ya enak aja.
Tapi aku gak tahu juga ya. Kalau aku berangkat waktu itu mungkin aku cuma jadi turis doang.

PRIA
Apa salahnya jadi turis?

GADIS
Karena aku ke sana bukan buat jadi turis.

PRIA
(menatap laptopnya) Life. Why are we here?
(diam, kamera bergantian menyorot wajah sang pria, tulisannya, dan wajah sang gadis)

GADIS
(tersenyum, lama-lama menggeli) buat minum cappuccino.
(mereka tertawa)
Kapan berangkat?

PRIA
(menatap si gadis)
Semakin ke sini aku semakin gak kepingin pergi.
Dulu aku memimpikan itu. Bisa pergi keluar negeri. Merasakan Natal di tengah salju. Lalu foto-foto itu. Hey world! I am here!
Tapi sekarang. Aku sudah menemukan tempatku bersama orang-orang sederhana itu. Yang bahkan harus menanam lombok biar bisa makan pedas. Lalu sore hari mereka akan menonton sinetron-sinetron membosankan yang begitu-begitu saja.
Tapi entahlah. Aku mencintai mereka.

GADIS
Life. Why are we here?
(terkikik) Tapi galau itu asyik loh.

PRIA
(tersenyum)
Mungkin tahun depan. Pertengahan tahun. Kudu belajar bahasa juga.

GADIS
(melihat ke pintu kafe)
Bentar!
(Dia melihat temannya) Dia itu kemarin ulang tahun.

Gadis berlari menemui temannya yang datang bersama pacar sang teman. Mereka berpelukan. Lalu berbicara seru. Menunjukkan tempat duduknya. Sang teman mengangguk kepada si pria. Si pria ikut mengangguk. Si pria melanjutkan ke laptopnya. Mengetikkan beberapa. Sang gadis masih berbicara dengan temannya. Seru. Lalu mereka berpisah.

GADIS
Mereka itu pacaran sejak SMP tahu! Berarti sudah berapa tahun ya? Dan kadang-kadang marahan kayak anak-anak gitu. Terus putus gak penting. Ujung-ujungnya ya balikan lagi. Gitu terus. Tapi awet sampek sekarang.


PRIA
(masih dengan laptopnya)
Pasangan yang imut.

GADIS
Banget!

PRIA
(menatap teman sang gadis bersama pacarnya)
Kalau cinta itu gitu ya.
Lari ke mana baliknya ke situ juga. And that voice just call you again and again. Home.
mengambil napas, menyimpan dokumennya di laptop) Makanya kalau kamu guru, kamu akan tetap menjadi guru, bahkan ketika kamu tidak berprofesi guru. Ketika kamu petualang, kamu tetap petualang.

GADIS
Cannot agree more!
Inget waktu nonton The Little Prince dulu?

PRIA
Fim yang menurutmu bagus itu ya? Dan menurutku ... ehhhhmmm...
Itu ngerusak cerita aslinya! Bagian paling bagus itu Cuma yang stop motionnya yang diambil

GADIS
Whatsoever! You know what! Sometimes you can someone who is so mean! Tahu!

PRIA
Sudah bakat!

GADIS
Kalau gak pernah mandi itu juga karena gak bakat?

PRIA
Itu takdir. Aku ditakdirkan gak bakat mandi.

GADIS
Aku itu suka banget pas bagian si rubah itu. Aku itu liar. Tapi jika kamu bisa menjinakkanku, aku akan menemanimu dengan setia.

Music In: Yesterday - The Beatles (Savannah Outen & Snuffy Walden Acoustic Cover)

GADIS
(menatap entah ke mana) Tapi cerita sang pangeran kecil memang bukan tentang si rubah. Cerita adalah tentang si mawar yang sudah dia cintai lebih dulu. Walaupun kamu meninggalkan dia, tapi hatimu masih selalu ke sana. 

Hening di antara mereka. Lalu suasana sekitar kafe. Sang teman bercanda dengan pacarnya. Beberapa gadis berhijab saling berbincang. Seorang remaja pria duduk sendiri sambil bertopang dagu, melihat terus ke handphonenya. Lalu kembali kepada teman si gadis.

GADIS
(menatap sang pria, tertawa) Eh kapan terakhir mandi?

PRIA
Sudah lupa!
(berdiri)
Entar ke kamar mandi dulu. Kebelet kencing.

GADIS
Hadeeehhhhh! (tertawa)


INT. KAMAR MANDI
Sang pria masuk kamar mandi dan tersenyum dengan sebuah papan yang ditulis di sana. Ada gambar pria dicentang, perempuan dicentang, pria dan perempuan bersama-sama disilang.
Lalu senyumnya memudar ketika dia memandang wajahnya di cermin. Dia membuka kloset.


EXT. KAFE
Sang gadis melihat handphonenya. Lalu menatap lurus entah ke mana. Senyumnya menghilang. Bibirnya. Lalu matanya. Jarinya yang mengusap tepi handphonenya. Dia memalingkan sedikit wajahnya.


INT. KAMAR MANDI
Menutup kloset. Meletakkan kedua tangannya di wastafel. Lalu matanya. Kembali kita melihat wajahnya yang menegas. Kita melihatnya setitik bening yang hampir jatuh tapi ditahannya. Dia menunduk. Menyalakan air dan membasuh wajahnya. Ketika dia mengusap wajah dengan kedua tangannya, kita melihat bahunya yang terguncang karena mengguguk. Dia mengusap mata dan wajahnya. Mengeringkannya dengan tisu yang disediakan di sana. 


EXT. KAFE

PRIA
It’s suck to live in people standard, you know!

GADIS
Of course!

Mereka, masih saling dengan pikiran masing-masing. Pria itu mengambil handphone. Sang gadis masih memegang miliknya. Mereka mengusap layar handphone msing-masing. Bersama-sama mengambil napas. Dalam sebuah kesempatan yang tidak kita sangka, mereka saling bertatapan. Bukan tatapan yang berlebihan, hanya bertatapan. Beberapa detik sebelum masing-masing kembali ke handphone masing-masing. 

GADIS
(masih menatap handphonenya)
Enam puluh tahun, mungkin delapan puluh. Betapa sia-sia waktu sependek itu untuk dihabiskan dengan menuruti apa yang diinginkan orang lain. 
(sang pria menatap sang gadis, sang gadis melanjutkan)
Ini hidup hidupnya siapa. 
Apalagi dihabiskan dengan meratap. Mengapa tidak cukup dihidupi saja dengan bahagia. 

PRIA
Batas itu ajaib. 

GADIS
Life worth to live is life which is standing as life itself.

PRIA
Limited life cared tenderly.
Or roughly.
(tersenyum) Gak tahu. 
Ah ya! Kemarin aku denger lagu bagus. Melancholic Bitch. Ini band indie, dari Jogja. Aku kenal yang vokalisnya.
Coba dengerin. 
(memberikan headphone kepada si gadis)

GADIS
(memasang headphone, tersenyum, lalu berbicara agak berteriak karena suara earphone di telinganya)
Teater banget! Kok aku kayak kenal suaranya ya?

PRIA
(memeragakan orang yang berteriak-teriak dengan mulut dan tangannya, tanpa suara)

GADIS
(mengatakan maaf tanpa suara, dan malu sendiri, mendengarkan sebentar)
Keren! Siapa vokalinya kayak akrab. 

PRIA
Namanya mas Ugo. Itu yang nyanyi sama Frau di Bercinta di Luar Angkasa itu. 

GADIS
Pantes! Rasanya kayak kenal banget. 
Gila ya mereka itu orang-orang keren ya. 

PRIA
Organik!

GADIS
Emangnya sayuran. 
Eh minta dong lagunya tadi.

PRIA
Entar tak kopiin di satu FD, sama film yang kamu pesen kapan hari. Ada film bagus! Judulnya Sing Street! Juara banget. Kamu tahu Once gak? Yang menang Oscar tahun berapa itu?

GADIS
Enggak!

PRIA
Jadi itu yang bikin filmnya John Carney. Dia udah bikin Once sama Begin Again. Semacam rendevouz untuk musik-musik indie begitu. Tapi ya indienya sana. Kayak trilogi tapi gak nyambung, masing-masing berdiri sendiri, yang ngelinkkan filmnya ya musik itu. Dan musiknya keren.

GADIS
Mauuu!!!

PRIA
Entar tak kopiin sekalian. Ada lagu yang keren banget. Entar.
(Dia berselancar di handphonenya)
Judulnya up. Denger liriknya ya.

It's two o'clock on the edge of the morning
She's running magical circles around my head
I head to ride on a dream she's driving
She turns to kiss me, I crash back into bed.
Across the street on a grayed-out Monday
I see the girl with the eyes I can't describe
And suddenly it's a perfect Sunday
And everything is more real than life.

Jadi kayak Hari Senin yang kelabu itu bisa begitu saja menjadi Minggu yang cerah pas lihat ceweknya itu. Keren banget. 

GADIS
Mau! Mau! Mau! Pokoknya dikopiin. 

PRIA
OK!

Lalu kita melihat kilasan-kilasan gambar mereka yang tertawa. Bercerita. Sang gadis menunjukkan sepatunya. Lalu terlihat seperti mereka berdiskusi serius. Lalu meledak lagi tawanya. Sampai kita lihat si pria membereskan laptop dan buku-bukunya. Sang gadis keluar dari toilet dengan rambut sudah terurai. 

PRIA
Aku antar pulang.

GADIS
Gak usah, orang Cuma deket situ doang. 

PRIA
Aku antar sampek pintu depan. 
(mereka berdua berdiri di depan kasir dan membayar kasirnya)
Aku pingin bikin film tentang pertemuan kita ya macam gini ini.

GADIS
Ayo! Aku mau!

EXT. JALAN

PRIA
Tapi entar yang mainin aku kamu cariin aktor yang keren.

GADIS
Yang mainin aku Dian Sastro.

PRIA
Gak usah kamu main sendiri saja. 

GADIS
Dan aku yakin nasibnya akan sama seperti nasib novel yang gak jadi-jadi itu. Atau tentang English Fest yang sekali ngomong entah gimana kelanjutannya itu. 

PRIA
Dalam dunia kita ada satu hal yang kita percayai.

GADIS
Ketidakpastian.
Ah kepastian itu membosankan. Dan betapa membosankan hidup ini kalau kita tahu apa yang akan terjadi besok. 

PRIA
Tapi kepastian-kepastian kecil itu menyenangkan.

GADIS
Sepanjang gak jadi kesimpulan gak apa-apa. 

PRIA
Kamu tahu lagunya Beatles yang Hey Jude?

GADIS
Tahu! Ah tapi lebih keren yang Black Bird ya!
Ah Paul McCartney itu keren! 
Si John Lennon itu memang filsuf ya, Imagine dan Stand By Me itu melegenda emang. Kalau Lennon kayak apa ya melihat laut, yang emang dimaksudin buat diinget. Tapi kalau urusan little daily stuff aku rasa McCartney itu juara! Dia dalem juga ya. Lagu-lagunya McCartney itu kayak sambel yang nendang yang seliweran. Dan begitu saja dia nempel aja tanpa dipaksa.

PRIA
George Harrison, dong!

GADIS
Ringo Star!
Eh tapi kenapa sama Hey Jude tadi?

PRIA
Itu sebenere judule, Hey Jules. Ditujuin buat anaknya Lennon, Jullian. Biar gak terasa sangat nonjok, Jules digandi Jude. 
Pas itu kan Lennon ada affair sama si Yoko Ono itu. Sampai bikin Lennon pisahan sama Cynthia. Dan lagu itu dibuat buat menghibur si Jullian itu. 
GADIS
Take your broken heart, make it into art.

PRIA
Princess Leia!

GADIS
Meryl Streep!
(keduanya tertawa)
Perempuan yang luar biasa!

PRIA
Liar biasa!

GADIS
Yang liar itu lebih menantang! 

PRIA
Tanpa kepastian. 

GADIS
Hanya kepastian-kepastian kecil yang menyenangkan.
(keduanya tertawa)
Aku akan bekerja di rumah. 

PRIA
Wow! 

GADIS 
Mengangguk

PRIA
Black Bird!

GADIS
Sort of ... just for a moment!

(mereka berjalan, dan VO:)
Your time to fly, but mine to perch
It is a fruit of youth sin and search
Sky is always blue, will we?
I touch your hair, you’re running free
You’re swirling hand a waving sea
They’re spelling you, they’re laughing me
Night is always calm, will we?
I let you go, I need no vow
Seeing you flap, I take my bow
Holding 
No tears or smile just whispering
“Deep in the sea, we are dancing”


EXT. DEPAN RUMAH GADIS

GADIS DAN PRIA (bersamaan)
Kamu pikir aku akan menyerah?
(mereka tertawa)

PRIA
Aku tahu!

GADIS
Sudah kuduga!
Ah akhirnya kamu mengantarkanku juga. 

PRIA
(mengangkat bahunya)

Telepon si gadis berbunyi. Mereka melihat nama yang terpampang di handphonenya. “SAYANG”

PRIA
Diangkat dong!
(meledek) sayaaaang...!

GADIS
Gak perlu!
(membuka gerbang) Makasih ya?
(bertatapan)

PRIA
See u!

GADIS
Soon!

Gadis menutup gerbangnya. Telepon sekali lagi dari  “SAYANG”. Kali ini dia mengangkatnya. “Maaf tadi masih di jalan” dan suaranya menghilang. 
Sang pria berjalan menjauh, memasukkan tangannya ke saku celana. 
Kita melihat sang gadis tersenyum. 
Kita melihat sang pria tersenyum.

FADE OUT 
MUSIC IN: Ne me quitte pas - Jacques Brel

CREDIT ROLLS
Tags :

No comments:

Post a Comment