Whatever you want...

Tuesday, January 27, 2015

Mampat

| No comment
Sebuah cermin dilempar ke atas batu. Pecahlah cermin itu berkepingan. Dan tergambarlah citra-citra yang berbeda, serupa, tetapi dalam bagian-bagian yang lebih kecil. Dentuman itu memecah dan meledakkan kohesi yang menjalin satu sama lain. Berbeda ketika cermin itu dilempar ke dalam air. Air itu akan memantul-mantulkankan bayangan yang bergerak dan bergoyang. Tetapi cermin itu utuh.

Mengapa tidak mungkin saja cermin itu dibiarkan utuh dalam kondisi nol-nya? Karena benda apa pun tak akan pernah diam. Molekul dan partikel selalu bergerak. Pada benda padat mereka akan lebih mampat, sedangkan pada benda cair mereka akan lebih longgar. Udara terlebih lagi, demikianlah makhluk hidup yang tidak hidup dengan berenang bisa hidup. Karena ruh dan napas yang menjaga mereka tetap hidup adalah rangkaian partikel yang justru tidak padat mampat tetapi teramat longgar hingga tak terasa oleh sentuhan.

Tapi indutri membutuhkan sesuatu yang mampat. Entah itu bohong belaka atau memang dengan pemaksaan kehendak. Maka apa yang telah diajangi oleh jagad raya ini dimampatkan sedemikian rupa dalam sebuah bentuk baru, kursi plastik, jam tangan, pakaian, hingga kertas foto. Lalu mendadak bangunan baru ini tadi menamai diri mereka dengan deretan angka. Pada saat itulah kiamat terjadi.

Energi di dunia ini jumlahnya akan selalu sama. Sesuatu yang dimampatkan akan mengandung risiko bahwa ada bagian lain yang akan melonggar. Manusia sudah lupa kepada hukum kekekalan energi. Guru yang menerima gaji semakin banyak, tiba-tiba berhutang sama banyaknya dengan tambahan gajinya. Semakin sukses seseorang semakin rentan dia terhadap cemoohan. Semakin orang menggenggam kukuh keniscahyaan barang-barang mampat-paksa ini, semakin mereka merasa takut kehilangan.


Tags :

No comments:

Post a Comment