Aku gak pernah suka dengan kitab Maleakhi. Sampai sekarang. Kitab itu punya konteks yang bagus, harapan. Tapi harapan yang dibangun dari kebencian Allah kepada bangsa lain, sori buatku bermasalah. Mungkin bukan Allahnya yang keliru, jika kita seorang teodis, tapi sang penulis kitab itu sudah menyebarkan kebencian yang lebih jamak daripada yang sebenarnya dibutuhkan.
Perseteruan Esau dan Yakub adalah kisah kuno yang terus diblow up melampaui kisah rekonsiliasi besar mereka. Orang memang senang sewenang-wenang memenggal kisah. Orang memenggal kisah Yunus hanya sampai Yunus dimuntahkan ikan raksasa, lalu lupa pada Yunus 4 yang ajaib. Orang memenggal Kisah Ayub hanya pada prolog dan epilog, lalu lupa ada pergumulan teologis berpasal-pasal. Orang agak moh berurusan dengan perkara rumit. Karena makan makanan keras itu bikin gigi growong kalau giginya gak kuat. Dan orang masih malas berurusan dengan penerimaan pada ketidaksempurnaan. Ini masalahnya. Semua harus sempurna dan enak dipandang mata. Akhirnya lendir, darah mestruasi, limbah, cairan vagina, sperma masih terus menerus menjadi monstrous yang membayang-bayangi dengan ketat.
Dalam logika internalnya, Maleakhi jelas kitab yang asoy aduhai. Harapan bagi mereka yang terjajah, upaya handarbeni lewat perpuluhan, semuanya tampak enak didengar. Tapi kalau bangunannya dibangun dalam konteks hukuman bagi musuh, kebencian kepada kelompok Esau, itu kan konyol. Bagaimana tidak wong Esau lah yang berbesar hati mengampuni Yakub. Orang baik dibenci, orang salah dibela mati-matian karena mitos kuno yang sama-sama tidak bertanggung jawab. Mitos kunonya begini: Sang sulung berhak mendapatkan hak lebih daripada anak-anak berikutnya. Dan Kejadian memutar balikkan mitos itu dan menjadikan Yakub terberkati, Habel terberkati, Yusuf terberkati, para sulung rata-rata kemudian menagis di pojokan sambil memegang dada "Sakitnya tuh di sini!" Tapi lalu memblow up ini dan memotong cerita cuma sampai pada pertengkaran itu kan salah kedaden. Karena ada kisah berikutnya, rangkulan bertangisan Esau dan Yakub, Kasih Yusuf kepada saudara-saudaranya, Kain yang tidak dibalas bunuh oleh Yang Maha Kuasa. Logika internal Maleakhi OK saja, tapi dalam kaitannya dengan logika eksternal yang serampangan itu agak konyol.
Tapi sudahlah, buat apa juga aku kesal. Doa pagi hari ini menepuk-nepuk rambutku dengan lembut. Kadang aku membenci mereka yang menjelek-jelekkan aku (entah karena memang aku salah atau salah paham), aku kesal dengan warga jemaat yang ora handarbeni dengan gerejanya, aku kesal dengan guru-guru yang gak bertanggungjawab kepada murid-muridnya, aku kesal dengan mereka yang meninggalkan aku, menolak cintaku, dan membekaskan rasa tidak berharga. Tapi setelah kesal njur ngapa? Apa setelah kesal semua menjadi semakin baik. Kesal yang berkelanjutan itu seperti membuat rantai seteru yang sambung menyambung tidak berujung. Sama saja dengan Allahnya Kitab Maleakhi yang pilih kasih akhirnya. Kita ini kadang konyol, wong agama lain dibenci, dulur dewe sing gak sama pendapate dibenci, itu kan memilih musuh yang keliru.
Ada pilihan lain, pilihan Yesus yang dinyanyikan dalam KJ 434 "Allah adalah Kasih dan Sumber Kasih. Kasihilah mereka yang membencimu. Serupa gandum kita busuk jika dipendam." "Bar kesel njur ngapa?" Kesel yang bertumbuh menjadi kebencian hanya akan membuat masalah saja bagi diri sendiri, orang lain, dan kemanusiaan yang adil dan beradab. Mending disenyumi dan nresnani dengan sepenuh hati. Masalah ada bukan untuk melahirkan kebencian, masalah ada ya untuk diselesaikan. Dan tiba-tiba urip jan enteng tenan! Nek aku ya milih Allah sing ini wae. Wakakaka!
No comments:
Post a Comment