"Kami dulu bermimpi, menjadi tua bersama. Bahagia berdua. Melihat anak-anak dan cucu-cucu kami berlarian bersama ke gereja. Kami akan duduk di bangku paling belakang. Gereja itu besar, dengan kaca-kaca berwarna-warni, dinding batu dan ukiran-ukiran besi. Dan kami akan duduk di sambil bergenggaman tangan, mengatakan satu sama lain bahwa kami telah mengalami semuanya berdua, manis, mual, dingin, merah, basah. Tidak terpisahkan."
"Bukankan kita tahu cepat atau lambat ini akan terjadi."
"Tapi setelah perjuangan berat ini."
Aku berhenti dan menghadapmu. Aku tinggalkan tumpukan buku itu di depanku. Aku harus mencari cara untuk mengalihkan pandanganku darimu. Atau membuang aku dari pandanganmu. Kau tahu aku selama ini terlalu sering berpura-pura. Kau sangat mengenalku. Kali ini mungkin saja sama. Bahwa aku hanya sedang berpura-pura seperti biasanya. Membengkokkan kenyataan bahwa sebenarnya aku tak acuh. Bahwa dari segala cerita yang kubangun dalam diriku, aku tak pernah mengisi apa pun selain tentang diriku.
Selama ini kejujuran yang sebenar-benarnya adalah bahwa masih terlalu banyak mimpiku. Dan yang lain tak terlalu penting. Aku berpura-pura baik. Aku bermuslihat menjadi orang yang paling mengerti. Sejatinya aku selalu menjaga diriku bermil-mil jauhnya. Aku lelah dengan sakit dan tangis. Aku lelah dengan ketertolakan. Dan untuk itu aku melakukan hal-hal yang seolah baik demi diterima. Demi dipandang mulia. Sejatinya aku tidak pernah percaya dengan segala cerita kemanusiaan ini.
Aku monster. Aku menciptakan lebih banyak monster. Aku memperanakkan mereka. Dan orang-orang itu tak ada yang sepenuhnya tahu. Mereka hanya melihat apa yang tampak oleh mata. Dan terlanjur percaya bahwa semuanya akan indah dan baik-baik saja. Tapi aku tahu bahwa mereka sedang mempercayai kebohongan, kebohongan mutlak. Sama sepertiku mereka hanya sedang membaurkan dirinya dengan ketidaknyataan. Dan mencoba percaya bahwa yang sejati adalah bahwa semuanya tidak lebih dari menyamankan diri dari segala batu-batu yang dilemparkan kepada mereka.
Kita semua melacur. Dan kita sudah terlanjur percaya bahwa kita melacurkan diri untuk sesuatu yang kita cintai lebih dari pada apapun. Kita telah memberikan semuanya dan percaya bahwa dia yang kita layani akan mencintai kita. Tapi kita tahu bahwa dia hanya menganggap kita pelacur, tempat berlabuhnya sementara. Sedangkan dia akan kembali pulang kepada cinta sejatinya. Dan kita akan ditinggalkan sama seperti sebelum-sebelumnya. Mungkin bukan kita, tapi aku, karena kau begitu berbeda.
Kau berani menjadi jujur dan dibenci mati-matian. Kau mengambil risiko-risiko, bahkan demi kejujuran itu kau tertolak. Bukankah selama ini aku sedemikian iri dengan pilihanmu itu. Kau tidak takut untuk dibenci, sedangkan aku terlalu takut untuk ditolak.
Tapi mengapa kau masih datang saja ke sini, sedangkan aku adalah kepalsuan dari segala kepalsuan. Dan kau tahu bahwa diam-diam aku berharap bahwa dia yang kucintai bisa mencintaiku seperti kau mencintai dia yang kau cintai dengan tak habis-habis. Bahkan setelah semua kanker yang menggerogoti tubuhnya, kau tetap tidak menyerah. Kau di sisinya hampir sepanjang waktu. Aku tak pernah punya yang sepertimu dalam sepanjang hidupku. Mereka yang datang hanya mereka yang membutuhkan kenyamanan. Mereka yang datang hanya mereka yang mengharapkan imbalan tertentu bagi diri mereka. Bukankah kemarahan terbesarku adalah bahwa aku tahu semuanya itu, tapi aku tak berhenti untuk terus berpura-pura mengasihi mereka. Seolah bahwa mimpi itu masih saja nyata.
"Tidak terasa sudah waktunya memimpin sendiri."
Aku kembali menatapmu. Tapi aku kembali pada kesibukanku menata buku-buku itu. Seolah-olah apa yang kulakukan senyatanya sedang kulakukan. Tapi kita sama-sama tahu bahwa tidak ada yang lebih kuperhatikan selain pembicaraan kita.
"Selama ini kami berdua. Selama ini kami selalu berjalan bersama. Aku seperti selalu memiliki kawan yang bisa diandalkan. Tapi setelah ini tinggal aku sendiri."
"Kau takut? Bukankah kita tahu bahwa mimpi indah hanyalah cerita di buku anak-anak itu?"
Kau tetap tidak menatapku. Kau hanya mengambil napas-napas panjang. Dalam berkali-kali perjumpaan, baru kali ini kau sesering itu mengambil napas panjang. Atau bahkan baru kali ini aku menyaksikanmu bernapas panjang.
Dan aku melihatnya. Bertahun-tahun kita bersama, baru kali ini aku melihatmu menangis. Selalu ada perasaan aneh melihat orang menangis. Ada yang diam-diam ikut melintang dan sakit. Mungkin itu empati. Tapi atas kepalsuanku, aku tidak berani berkata empati. Mungkin itu hanya kepura-puraan yang lain. Tapi aku tidak berbohong bahwa ada yang tidak nyaman ketika melihat orang menangis. Kadang aku menjadi begitu marah ketika melihat orang-orang itu menangis, mengapa masalah sekecil itu saja harus dirampungkan dengan tangis. Aku kadang merasa bahwa orang-orang terlalu manja dan ingin diperhatikan dengan berlebihan.
Tapi ada kalanya juga tangisan yang tertentu membuatku ambruk. Ketika aku tahu bahwa mereka diam. Mereka tegar. Mereka tersenyum dan menceritakan semuanya baik-baik saja. Dan ketika sampai di rumah mereka mengunci kamar dan menagis sekeras-kerasnya dengan bantal yang membekap wajah mereka. Agar tangisan-tangisan itu tak terdengar.
Atau jangan-jangan aku melihat mereka yang demikian seperti sedang melihat diriku sendiri? Bukankah aku demikian. Di balik segala kekuatan yang kutampakkan sebenarnya aku rapuh. Serapuhnya. Orang berpikir kerapuhanku adalah karena aku memilih orang-orang yang keliru. Tapi aku rasa kau berbeda dengan mereka, kau tahu bahwa kerapuhanku adalah kegagalanku untuk menerima semuanya dan membungkus semuanya dengan cerita-cerita yang memukaukan. Tapi di balik itu aku menangis. Entahlah aku harus menyebut ini dengan apa, tragis? Ironis?
Tapi kali ini kau menangis. Dan aku tahu kau tidak menangis dengan jumawa. Kau lebih kuat menyembunyikannya daripadaku. Dan kali ini kau menangis di depanku. Dan aku tahu bahwa ini tak main-main. Tahukah kamu ada perasaan teriris yang amat sangat kepadaku sekarang. Melebihi perasaan ketika aku ditinggalkan, melebihi segala ketertolakan, melebihi semua dasar kepura-puraan yang aku bangun. Melampaui mimpi-mimpi yang tak kunjung terjadi. Melampaui segala kekecewaan. Kau menangis, dan aku juga.
"Semuanya akan baik-baik saja." Ucapku, atau ucapmu. Jangan beranjak dulu, aku masih ingin menikmati saat-saat ini, dan kau tidak.
Aku masuk ke dalam kamarku. Dan aku melihatku sedang duduk di dalam sana sedang membaca sebuah buku yang tebal tentang segala cerita kehidupan. Aku yang ada di dalam kamar adalah aku yang indah dengan penampakan yang paling memukaukan. Aku yang dicintai siapa pun. Aku yang dihargai siapapun. Aku yang sempurna. Aku yang ada di dalam kamar itu duduk ditemani seseorang yang sudah selama ini kudambakan dalam diam. Dan dia memelukku yang itu. Kesempurnaan apa selain mencintai dan dicintai.
"Apakah hidup begitu mudah di sini?" Tanyaku.
"Tidak ada yang menyakitkan di sini. Semuanya luar biasa."
Aku bisa melihat keberhasilan yang cemerlang pada wajahku yang itu. Yang bertolakan dengan aku yang baru masuk, yang buruk rupa dan gagal melakukan semuanya. Menutupi semuanya dengan segala macam cara, seolah orang tidak melihatnya.
"Kau mencintaiku?" Tanyaku kepada dia yang duduk di sebalahku yang itu.
Dia menatapku dan tersenyum. "Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku." Jawabnya sambil memelukku yang itu semakin erat.
"Aku ... aku melepaskan kalian."
Dan aku melihat wajahku dan wajahnya yang kucintai itu tiba-tiba memerah. Aku yang itu dan dia mendadak marah. Tapi segera kalian tahu bahwa aku tidak mempan dengan marah. Maka wajah kalian mendadak muram. Kalian menangis.
"Bukankah kau berjanji kita akan selalu bersama?" Kataku yang itu. "Di sini kau memiliku, seutuhnya." Ujarnya yang kucintai.
Aku menatapku dan menatapnya.
"Aku berharap seperti itu. Dan kita tahu tentang itu sepenuh-penuhnya."
Aku yang itu tak juga menyerah, "Kau ingat tentang tempat itu? Rumah yang kita bangun dengan indahnya. Dia adalah seorang arsitek dan kita adalah penumbuh harapannya. Tanpa kita dia kacau." Dan dia yang kucintai itu mengangguk dengan sungguh-sungguh.
"Kali ini aku harus berani berhadapan dengan kenyataan. Dan berhenti bersembunyi." Jawabku.
Dia yang kucintai itu melepaskan pelukannya dariku yang itu, "Untuk apa kau berjuang? Apa yang kau perjuangkan? Kau tahu bahwa semua yang kau lakukan hanya sia-sia. Kau tahu tidak akan ada yang berhasil. Sedangkan di sini kau memiliki semuanya. Dunia sangat indah. Matahari tak terlalu terik dan langit berwarna-warni dengan cahaya yang tumpah. Debu-debu yang bergemerlapan seperti intan. Kau bernapas dengan udaara yang lebih bersih. Di sini tidak ada polusi. Di sini tidak ada kau adalah segalanya. Kau berhak mengatur semuanya. Kau bisa menggantiku dengan siapapun yang kamu mau. Siapa? Kau mau aku menjadi siapa? Aku akan melakukan semuanya."
"Di sini kita dewa!" Ujarku yang itu.
Dia yang kita cintai itu menambahkan, "Kau selalu tahu bahwa semua yang ada di luar sana lebih palsu. Selama ini kau tak berhenti berjuang dan apa hasilnya? Tidak ada. Untuk apa kau melanjutkan semuanya jika semuanya sia-sia? Untuk apa?"
"Aku percaya?"
"Apa yang aku percayai? Kau adalah orang yang tidak mempercayai apa pun di luar sana. Kau tidak percaya dunia akan menjadi lebih baik. Yang kau percayai hanyalah keseimbangan. Dan keseimbangan tidak pernah menceritakan semata kebaikan. Semuanya juga tentang kejahatan yang sama kuatnya. Apa yang kau percayai? Harapan?"
Aku yang itu membimbingku duduk. "Aku tahu semuanya berat. Di sini kamu punya rumah. Semua yang di luar sana jahat." Dan dia yang kita cintai segera memekukku dan memberikan ciumannya kepadaku. "Kita bertahan hidup di sini, hanya kami yang tahu yang terbaik bagimu."
"Tidak!" Jawabku, aku memandang keluar kamarku, kepada yang menangis di luar sana. Kepada yang menundukkan kepalanya dengan terlalu berat. "Kalian berdua tahu apa kesalahan terbesarku dalam hidup. Karena aku menciptakan kalian. Pada waktu itu aku masih muda dan terlalu takut dengan semuanya. Kalian menyamankanku dan memampukanku menghadapi semuanya."
"Habis manis sepah dibuang!" Jawabku yang itu.
"Kalian hanya bayangan. Kalau aku boleh bermimpi, aku akan tinggal bersama kalian selamanya. Tapi manusia bukan hidup dalam mimpinya. Manusia menghidupkan mimpinya, menjadikannya kenyataan, bahkan ketika tampaknya tidak ada yang terwujud. Kita bahagia bersama selamam ini, aku tahu itu. Tapi kita telah memiliki waktu-waktu kita. Dan kita telah melaluinya dengan ... cukup. Kali ini aku memilih hidup."
Aku yang itu begitu marah. Dan dia yang kucintai tiba-tiba menahan kedua tanganku ke belakang. Mengikatkannya dengan genggaman tangannya. Aku tidak menduga bahwa dia akan begitu kuat. Aku yang itu beranjak menjauh. Berdiri dari kursi dan menendangku sekeras-kerasnya. Entah dari mana datangnya pisau itu, aku menusukku. Sakitnya luar biasa. Entahlah, tapi aku tidak terluka, aku tidak berarah, aku justru menangis.
"Selamat jalan!" Aku menatap wajahku dan wajah dia yang kucintai. Tiba-tiba kamar itu runtuh, pecah seperti beling berkeping-keping.
"Aku buatkan kopi."
Kau menyeka air matamu, dan aku melihatmu tersenyum, "Semua akan baik-baik saja, kan?"
"Percayalah semua akan baik-baik saja!"
No comments:
Post a Comment