“Memang apa yang ada situ?”
“Aku dan kamu!” Jawabku serius.
Dia terkekeh menampakkan sudut pipinya yang melesung sebelum menguap lenyap. Aku masih terduduk dengan gaun merah jambuku yang beringsut kumal. Dan sesegera itu warna putih gading cerah itu menjadi kelabu. Aku terjatuh dalam ketidaknyamanan yang sudah kuwaspadai. Hanya aku sendirian dan beberapa orang yang segera datang. Mereka datang lagi hari ini.
Beberapa detik yang lalu semanggi dan pakis haji tumbuh subur di tanah berjewawut emas ini. Sebuah jembatan legam bergurat-gurat sulur. Sebuah pohon gaharu dengan ayunan kecil tergantung, dan seraut tuba muda merambati tali ayunan itu. Sungai dengan air yang hangat dan uap yang berkepul-kepul. Seperti dalam mimpi. Bintang menggantung perak berkilatan di langit yang membaurkan oranye, kuning, dan biru muda. Sedang di tanah tumbuh berbagai jenis begonia, keladi merah, bunga lonceng, krisan, daffodil. Dan wangi roti hangat memenuhi udara. Aku dengan gaun merah jambuku yang berumpuk-rumpuk warna mawar dan beberapa brokat di balik punggungku. Aku dan dia tak melepaskan tangan. Dia dengan kemeja putih dan jas yang sama, dengan senyum yang itu-itu juga. Jawaban yang kebanyakan bisa kuduga. Namun begitu, tak pernah membosankanku. Dia selalu tahu tentang aku yang menunggu. Datang tepat waktu dan pergi ketika aku beringsut lelap.
Dia semakin sering muncul belakangan ini. Kami bisa bercerita tentang apa pun, bahkan tentang masa lalu dan segala rahasia gelapku. Kebanyakan tentang cinta-cinta kami. Dia akan mendengarkan dengan tekun sambil sesekali bergelegak menertawakan ceritaku. Demikian juga, aku mendengarkan ceritanya. Tiba giliran diam, kami akan saling berpandangan, lama sekali. Kami sering berjalan-jalan hingga petang, namun lebih sering hanya duduk berdampingan menghabiskan siang hingga petang, tak jarang bahkan hingga malam. Jemarinya hangat dan cincin yang kami buat dari melati putih itu masih dikenakannya. Dia bilang norak, tapi tak pernah melepaskannya.
Aku terkejut beberapa hari yang lalu ketika bedak warung Emak diobrak-abrik. Mereka tak menemukan apa yang mereka cari, karena orang-orang itu tak mencari apa pun di warung kami. Mana mungkin, Emak hanya berjualan nasi pecel, mereka tak akan mendapatkan lebih dari sekadar nasi yang sesegera mungkin bertebaran ke tanah pasar yang keruh, dan sayur-sayuran yang seketika langsung menancap di wajah-wajah mereka yang tegang. Emak kalang kabut, sibuk menangis dan memaki. Tak ada yang merendah, semuanya serba meriuh. Ada tangisan, ada kecaman, ada kepulan kemarahan. Tak ada yang ditahan, semuanya dilepaskan. Tapi tak selang lama semuanya kembali diam. Orang-orang berseragam hijau itu bergolong-golong menjauh, Wak Ali Martabak membawa parang, Mak Rodiah memegang kayu jagrak sate dorongnya, tumplek semua dagangannya menyisakan aroma gurih bumbu sate dan anyir daging. Beberapa yang lain memegang sekenanya, sandal sampai piring beling ukuran besar. Beberapa menit setelah orang-orang berseragam hijau itu menghilang, hanya terdengar tangisan menjerit Mak Rodiah, menyumpah-nyumpah kepada Allah, lupa dia kalau biasanya tak pernah sembahyang. Lalu hanya sepi yang menggumam-gumam. Emak hanya memandang kekosongan sambil beberapa kali menarik napas panjang. Tak pernah kulihat emak begitu sejak kami tinggal di rumah kakek dulu.
Dan dia, priaku, berdiri di belakang emak, tak ada wajah marah. Hanya ada senyumnya yang biasa, kemeja putihnya dan jas hitam yang biasanya dengan cincin bunga melati kami. Aku tersenyum kepadanya. Dia melambaikan tangannya memanggilku, aku memaksakan kakiku yang sedari tadi kaku menyelusup di belakang meja ceriping kacang, menghampirinya dengan senyum yang masih menyisakan ketakutan. Emak memandangku dan memandang ke arahnya, mengernyitkan dahi, dan berbalik menghadapku.
“Mau ke mana?” Parau suara emak.
“Sebentar, Mak!”
Aku menghampirinya. Dia menggenggam tanganku, aku menggenggam tangannya, melenggang pergi. Dia membisikkan sesuatu di telingaku. Pasti sesuatu yang lucu karena aku segera tertawa. Aku menawarkan diriku memeluk pinggangnya, dan dia tak keberatan. Lampu jalan menyorot oranye mengarahkan kami pada tempat yang itu-itu juga, jembatan yang biasanya, masih legam dengan gurat-gurat sulur di sepanjang pegangannya. Aku selalu bertanya apakah kami pacaran, tapi dia tak pernah menjawabnya. Aku mengajukan pertanyaan yang sama saat itu dan dia masih seperti biasa, hanya tersenyum. Tapi tidak biasanya, kali itu kami tidak berdiri di jembatan dengan uap air hangat yang berkepul-kepul itu. Dia mengajakku duduk bersisihan dengannya, melepaskan jasnya dan mengalungkannya ke bahuku. Ternyata di balik jasnya ada kemeja putih berbordir parang kusuma dari bahu kiri sampai bawah. Ya, dia tahu bagaimana menghentikan pertanyaanku.
Kali itu dia menceritakan sebuah cerita baru, cerita dari negeri Alenka.
“Seorang putri cantik duduk di jembatan serupa ini di Alenka. Dia menantikan kekasihnya.”
“Mengapa putri itu menantinya?”
“Karena pangeran jahat merusak wajahnya. Putri itu ingin menyambut kekasihnya. Dia berpikir bahwa suaranya cukup untuk membuat kekasihnya mengenalinya.”
“Apakah kekasihnya mengenalinya?”
“Jangan terburu-buru.” Jawabnya. Suaranya seteduh pohon mangga di halaman rumah kami di desa dulu. Kakekku membuatkan ayunan dari dingklik, emak tak henti-hentinya menangis, kakek tak henti-hentinya marah. Bapak tak pernah pulang, aku tak mengenal bapak. Atau bapak memang tak pernah ada. Aku hanya mengenalinya dari selembar foto, seorang pria dengan kopyah hitam berbordir parang kusuma, jas hitam, kemeja putih rapi dan melati yang mengalungi lehernya. Emak berkebaya merah jambu, rambutnya disanggul dan cantik. Emak sumringah sedangkan bapak melotot dengan sedikit tegang, tegang tapi senang. Di belakang mereka ada langit berwarna biru dari gambar latar tukang foto, beberapa gurat warna oranye menguning seperti warna matahari sore, sebuah vas bunga plastik di sebelah mereka menambahkan cerita pada gambar itu. Emak berdandan seperti mau kondangan, seperti waktu nikahnya Bulik Arin. Aku mengenali dompet besar di tangan emak, aku tak boleh memegangnya sampai sekarang. Katanya kenang-kenangan dari bapak. Dompet merah marun dengan hiasan sulur pakis dari monel putih berkilatan. Tak pernah dompet itu keluar dari kotak uang di warung kami. Disimpan di dalam plastik bening. Tak pernah diisi uang, hanya disimpan saja.
“Putri ini tak mencintai sang pangeran, tapi sang pangeran memaksa untuk menikahinya. Mana sudi menikahi raksasa, kau pasti juga tak mau, kan! Kekasihnya hanya pemburu di hutan dekat pagar batas negeri itu, seperti gambar-gambarmu waktu kecil dulu. Seorang pemuda tampan dengan belati tersarungkan di sabuknya dan tombak bertaring tiga di tangannya. Kekasihnya bukan orang kaya, karena sesekali dia hanya menjual daging hasil buruannya. Namun cinta tak pernah memihak akal sehat, entah mengapa sang putri tetap jatuh dalam pelukannya. Di jembatan itu mereka biasa bertemu, sebelum pangeran merusak wajah sang putri.”
Aku menguap, dia berpikir aku lelah. Tapi dia segera tahu bahwa aku ingin mendengarkan ceritanya sampai pungkasan. Maka dia melanjutkan.
“Hingga dua ratus tahun putri itu duduk di jembatan. Negeri Alenka berubah menjadi padang belukar setelah semuanya terbakar. Pangeran itu mati di kamarnya, begitupun para punggawanya, mati di kamar masing-masing. Namun kekasihnya tak juga datang.”
“Apakah kekasihnya tak mencintainya?”
“Bukan begitu, kekasihnya mencintainya. Mencintainya amat sangat. Tapi kekasihnya sudah mati, dia dibunuh ketika berdagang daging kijang ke negeri Alenka, jauh sebelum kebakaran besar itu. Negerei Alenka adalah negeri yang dulu gemah ripah, pusat perdagangan rempah dan jarak, banyak orang berpakaian karung goni mencari nafkah. Tapi pangeran itu memerintah dengan amuk sampai selama masa hidupnya. Tak ada yang berani menentang perkataannya, karena pangeran itu punya cara menenung orang hingga lenyap tak membekaskan apa-apa, bahkan nama. Kekasihnya mati muda, seperti orang-orang tanpa nama yang hilang itu. Tapi sang putri tak pernah tahu.”
“Jadi mereka tak pernah berjumpa?”
“Ada yang mengatakan begitu. Tapi yang lain mengatakan bahwa setiap purnama putri akan melihat wajah kekasihnya di riak air sungai di bawah jembatan."
"Seperti dua orang yang bertemu sekali setahun dengan jembatan burung berkicau itu?"
"Entahlah! Mungkin sebenarnya putri itu sudah lupa kepada kekasihnya, sebenarnya begitu, dia sejatinya hanya menunggu wajah yang meriak di sungai. Tidak ada di antara kita yang pernah tahu.”
Emak menampar pipiku dengan keras. Matanya melotot merah dan dadanya naik turun membangunkanku. Tetapi priaku menenangkanku. Dia memelukku dengan erat. Aku bisa mencium wangi melati di jarinya, dia mendekapkan seluruh lengannya ke wajahku. Tapi emak masih sanggup merenggutku. Aku melihat asap ang menggunung dan api yang tak berhenti menari-nari. Di bekas warung kami hanya beberapa yang tersisa, piring beling yang pecah belah. Dan meja yang terjungkal hingga ke lingiran jalan. Ramai dan kacau.
Api itu menyulut dari tenda ke tenda. Aku melihat dari jauh beberapa orang berseragam hijau menatap dengan ngeri. Bukan yang kemarin, yang ini tidak kelihatan beringas. Pak Umar sibuk mengangkat tong berisi air keruh dari kali di seberang jalan. Tapi semuanya terlambat. Terlalu cepat tenda-tenda itu terbakar. Bau minyak tanah. Lalu sebuah tabung gas meledak dan menjadikan kobaran api semakin merajalela. Para pedagang itu menyeru marah, meneriakkan nama setan dan sedetik kemudian menyerukan nama Allah. Lebih banyak sumpah serapah dari biasanya. Biasanya para pedagang kaki lima saling menyapa temannya dengan bahasa serapah tapi mereka selalu saling tertawa-tawa. Kali ini tidak ada tawa. Semuanya terbakar bersama bedak-bedak di pasar itu.
Entah sejak kapan seng-seng itu berdiri di belakang bedak-bedak kami. Sebuah papan bertuliskan bahasa yang tidak kumengerti. Propersi atau properti, PT, atau entah tulisan apa yang tertera di sana ditulis dengan cat warna merah yang sudah kering, tapi masih baru. Keributan tidak terhentikan, apalagi ketika para pedagang pasar tiba-tiba menyerang para pria berseragam hijau yang kelihatannya tidak siap diserang. Pukul memukul terjadi, namun jumlah kami lebih banyak.
Wak Ali tampak menggerancah, tiang besi terop warung martabaknya beralih menjadi senjata. Tidak berhenti dipukulnya lawan yang mengaduh-aduh dan meminta tolong. Yang lain memukul yang lain juga, satu orang bisa dikerubungi lima sampai sepuluh orang. Dentang besi dan kayu bertarung dengan gemeletuk tulang. Darah para pria berseragam hijau itu melangsang di sepanjang jalan. Diinjak-injak oleh kata-kata makian dan pentungan-pentungan. Lebih ramai dari pasar Kliwon. Semuanya serba keras dan meninggi, dibakar oleh beberapa ledakan kompor lagi yang tak bisa diselamatkan. Aneh sekali mengapa api bisa menyergap sebegitu cepat. Perempuan-perempuan menangis sejadi-jadinya, tampak tak kuat memandang namun juga tak ingin melewatkan.
Lalu sirene polisi berbunyi dari kejauhan. Puas memukuli para pria berseragam hijau, para pedagang itu berlari ke arah mobil polisi yang baru datang. Seorang polisi muda sempat keluar dari mobilnya dan menembakkan pistolnya ke atas. Dentuman keras suara pistol menghetikan para pedagang, namun hanya sedetik saja. Karena sedetik kemudian kerumunan itu kembali menyerang, beberapa polisi tiba-tiba menyembul seperti laron.
Asap berkepul-kepul, mataku sakit oleh asap itu, seperti ketika membuka mata di air garam. Aku mencari wajah priaku. Aku mencari emak. Tapi keduanya tak juga kutemukan. Hingga tiba-tiba ada yang panas menohok kepalaku dari belakang. Aku terjungkal, darah mengalir dari rambutku. Kental seperti kecap dari botol yang baru dibuka, wanginya seperti ayam potong. Dan sejenak saja, betul, sang priaku berdiri di sana, dia berjalan mendekatiku, perlahan sekali. Tapi emak segera menembusnya dengan tergopoh-gopoh. Priaku serupa asap yang ditembus emak tanpa butuh perjuangan. Emak meraung, emak marah, emak menangis. Air mata membuncah bersama ingus yang mencair dan keringat. Tetapi priaku menjulurkan tangannya yang wangi melati kepadaku, langit berwarna oranye biru di belakangnya, pakis haji dan dingklik ayunan kecilku.
No comments:
Post a Comment