Ini cerita tentang keluargaku yang aneh. Tentang kakakku yang aneh dan ibuku yang lebih aneh lagi. Dan yang lebih aneh dari mereka tentu saja ayahku.
***
Enam bulan yang lalu kami keluarga yang baik-baik saja. Aku juara lomba melukis, ibuku selalu mengatarkanku dengan setia. Lalu ibu akan menungguku di luar. Ibu-ibu yang lain akan saling bercerita. Aku tidak habis mengerti kenapa ibu-ibu itu tidak pernah kehabisan bahan cerita, mereka bisa ngobrol mulai dari masakan, anak-anak mereka, sampai Pak SBY. Beberapa dari mereka bertentangga, tapi mereka tetap tidak kehabisan bahan omongan. Ibuku biasanya lebih banyak diam, ibu tidak senang ngerumpi. Tapi ibu perempuan yang cekatan, aku yakin lebih cekatan dari ibu-ibu tukang ngerumpi itu. Kami tidak pernah punya pembantu walaupun aku yakin ayah bisa membayar pembantu.
Ibu hebat mengerjakan setiap pekerjaan rumah, ibu bangun sebelum kami semua bangun, dia membaca renungan pagi dan berdoa. Setelah semuanya selesai, ibu akan sangat sibuk di dapur. Aku biasa mendengar piring dan panci bertarung berdentangan dari balik selimutku. Aku akan terus berpura-pura tidur, kalau ibu tahu aku sudah bangun, dia tidak akan kekurangan kalimat perintah untukku, walaupun sebenarnya dia sendiri bisa melakukan apa yang dia perintahkan. Mengapa orang-orang dewasa begitu senang menyuruh-nyuruh. Kakakku tidak pintar berpura-pura, karena itu dia selalu kena suruh.
Aku tidak tahu dari siapa aku menuruni bakat melukisku. Pasti bukan ibu, karena aku tidak pernah melihat ibu menggambar, apalagi ayah. Ayah pegawai negeri kantoran yang bekerja di Surabaya. Aku tidak ingin bekerja seperti itu, membosankan. Mungkin karena pekerjaannya, ayah akhirnya menjadi orang yang membosankan juga. Setiap kali pulang tontonannya hanya berita, lalu dia akan mengulang-ulang cerita yang sama, tentang harapannya supaya anak-anaknya sukses, karena itu kami tidak boleh malas. Aku tidak tahu apa yang membuatnya bergairah untuk selalu meneriaki anak-anaknya supaya tidak malas, nyatanya setiap kali pulang ayah hanya akan tidur-tiduran sepanjang hari.
Ayah pulang setiap Sabtu, dan ibu pasti berdandan setiap ayah pulang. Ibu akan berbau wangi seperti sedap malam. Kalau Sabtu, aku tidak boleh tidur bersama ibu, karena kasurnya sudah sempit hanya dengan ibu dan ayah saja. Aku juga lebih senang tidur dengan bebas, aku sudah mengatakan kepada ibu kalau aku ingin tidur di kamar sendiri, aku punya kamar di sebelah ruang makan. Tapi ibu melarangku, katanya aku masih kecil, padahal aku sudah nol besar. Aku tahu bahwa ibu berbohong. Sebenarnya ibulah yang tidak berani tidur sendiri. Ibu selalu membutuhkan orang untuk menemaninya. Ayah tidak pernah bisa membaca itu. Kalau sedang sendirian, ibu hanya akan duduk dan melamun. Seharusnya ibu bisa bekerja seperti perempuan-perempuan lain, uang yang ditinggalkan ayah setiap kali pulang sudah cukup untuk mencukupi kami, tapi aku merasa ibu perlu bergaul dengan orang lain. Tapi ibu selalu mengatakan alasan yang sama, ibu tidak senang ngerumpi.
Aku ingat suatu saat ketika kakak pulang sekolah ibu sedang menjahit celana kakak yang sedang jebol karena dipakai turnamen basket. Aku tidak tahu persis bagaimana, tapi kakak lalu mengatakan kepada ibu, "Ibu harus punya dunia sendiri juga." Tapi ibu hanya tersenyum, "Bagi seorang ibu, dunianya adalah keluarganya. Dan itu yang dijaga oleh seorang ibu mati-matian. Lagipula kalau ibu bekerja, siapa yang nanti menjahitkan celanamu ini?" Aku rasa ada benarnya juga. Kakakku itu pemalas dan tukang mengeluh. Dia saja jarang menyetrika bajunya - kalau aku kan masih kecil jadi aku belum bisa menyetrika sendiri - apalagi kalau ada yang sobek begitu, mana bisa dia menjahit celananya. Jadi sebenarnya aku tidak tahu persis apakah ibu harus bekerja atau tidak.
***
Enam bulan yang lalu, aku ingat persisnya tanggal 23 Desember, dua hari sebelum Natalan. Ayah sudah satu bulan lebih tidak pulang, dan ibu akhirnya datang kepadaku. "Dek, Ibu boleh pinjam tabungan kamu gak buat membeli kue-kue Natal kalau nanti ada tamu. Ayah belum bisa pulang Natal ini." Aku sebenarnya tidak mau, tapi karena aku malu kalau teman-temanku datang dan tidak ada kue di rumah, maka aku kasihkan saja buku tabungan itu kepadanya. Aku mendapatkan uang setiap kali menang lomba lukis. Aku bahkan sudah mengumpulkan lebih dari sepuluh juta. Aku kapan waktu mampir ke rumah Dimas, dan di rumahnya ada berbagai macam kue, mulai dari Kong Guan, Astor, Keripik melinjo, sampai kue-kue yang ditoplesi bagus-bagus. Tapi di rumahku Aqua saja tidak ada. Tidak biasanya. Biasaya setiap tanggal segitu aku pasti sudah terima baju baru, tapi aku bahkan tidak dapat hadiah apa-apa Natal kemarin, kecuali bungkusan dari gereja yang berisi lima buah buku. Aku tidak suka gambarnya, masak anak laki-laki dikasih buku gambar Hello Kitty.
Lalu aku mulai sering melihat ibu menangis sesudah itu. Ayah semakin jarang pulang. Kalau dulu ayah pulang setiap Minggu, sekarang bahkan setiap bulan pun tidak ajeg. Aku dulu berpikir ibu pasti merindukan ayah, makanya dia menangis. Aku pernah bertanya kepada kakakku, memangnya kalau orang kangen itu sampai nangis ya, aku tidak pernah melihat kakakku menangis, bahkan setiap kali selesai bertelponan dengan ceweknya dan mengatakan "Aku kangen kamu!" yang kulihat kakak malah tertawa cekikikan sambil berbunga-bunga. Tapi tentang ibu, kakakku seperti senang berahasia. Dia akan mengacungkan jarinya di depan bibirnya menyuruhku diam.
Aku tidak berani bertanya kepada ibu, karena suatu ketika, ketika kakak -aku tidak ingat ketika apa itu- mengatakan kepada ibu supaya ibu kuat, ibu malah menangis. Ibu lebih sering menangis mulai waktu itu. Kadang-kadang dia memarahiku tanpa alasan. Hanya gara-gara nonton tivi ibu pernah sampai ngamuk dan hampir memukulku. Aku lari. Ibu tidak mengejarku, malah menangis di depan tivi. Aku jadi bingung. Orang dewasa memang aneh.
Keanehan itu berlanjut. Suatu kali ayah pulang, ibu malah tidak berdandan, dia masih memakai baju biru dan rok span hitam yang biasanya. Mereka awalnya berbicara berdua berbisik-bisik, aku merasa senang, aku rasa ayah dan ibu saling bermesraan setelah lama tidak bertemu. Mereka pasti sedang berkangen-kangenan. Aku tidak ingin mengganggu. Aku menuju kamarku di sebelah ruang makan, aku menghidupkan lampu, memakaikan sprei dan mengambil beberapa bantal dari kamar induk. Tiba-tiba saja ketika aku mengambil bantal yang kedua, aku mendengar ibu berteriak dengan keras, "Ya wis sana gak usah pulang, pulang saja ke gendakan kamu itu!" Dan aku melihat ayah memukul ibu. Bantalku jatuh. Ibu menangis. Aku pun jadi ikut menangis. Wajah ayah menjadi bingung. Aku berlari memeluk ibu, kami seperti lomba keras-kerasan menangis. Ibu tidak berhenti bersenggukan, aku meraung sekeras-kerasnya sambil berteriak, "Jangan pukul ibu, Yah! Pukul aku saja! Ayah jahat! Ayah jahat!" Ayah tidak memeluk kami, tidak juga minta maaf. Ayah justru pergi. Dan sesudah itu ayah tidak pernah pulang lagi.
Aku akhirnya mencoba menata bagaimana ceritanya. Tidak ada yang memberi tahuku. Aku mengolahnya sendiri. Aku bertanya kepada ibu guru, gendakan itu artinya apa. Tapi bu guru malah mengatakan "Kamu belajar saja dulu, ya Sayang! Jangan mikir pacar-pacaran! Nanti kalau sudah besar boleh pacaran."
Setelah itu ibu semakin sering datang ke kamarku dan meminjam tabunganku. Aku bertanya kepada ibu berapa sisa tabunganku. Katanya masih banyak. Jawaban itu tidak memuaskanku, aku bertanya kepada kakak, aku minta kakak melihatkan buku tabunganku, kata kakak tinggal satu juga setengah. Ternyata masih banyak, aku bisa membeli banyak cat air dengan satu juta setengah. Kakak malah menangis sambil memelukku, "Kakak minta maaf ya, Dek! Nanti kalau kakak sudah kerja, kakak ganti uangnya." Mengapa kakak menangis? Semuanya menjadi semakin aneh. Lalu bukan cuma kami yang aneh semua barang di rumah juga ikut aneh. Telepon tidak lagi berdengung. Kran air sering mati setiap awal bulan, kalau sudah begitu aku harus mengungsi mandi di rumah kakek. Dan yang paling aneh adalah ketika kakak Ujian Nasional kelulusan, listrik rumah kami mati sendiri, pulsanya habis. Tapi ibu dan kakak malah tidak membelikan pulsanya. Kakak malah belajar dengan lilin, ketika aku tanya memangnya kelihatan, kakak malah tersenyum sambil mengatakan, "Ini namanya belajar yang romantis, seperti jaman dulu, kan, rasanya?" Ibu melihat kami dan ibu malah berlari ke dalam kamar, lagi-lagi menangis.
Minggu lalu kakak pulang sekolah dan mengatakan kepada ibu kalau dia diterima penyaringan di UGM. Tapi kakak tidak kelihatan bahagia. Ibu tersenyum, senyumnya agak aneh, seperti ada yang dipaksakan. "Kamu masuk saja, nanti kita cari biayanya bareng-bareng, ya!" Kakak justru menggeleng dan tersenyum, "Enggak, Buk! Aku kemarin memasukkan lamaran ke Rajawali, Pare. Aku sudah tes wawancara juga. Aku mulai masuk minggu depan." Kakakku masih tersenyum tapi ada setetes air mata menggawil hendak jatuh dari kelopak matanya.
"Tenang saja! Tidak tahun ini tidak apa-apa! Yang penting ibu sehat!"
Ibu berusaha tenang, "Nanti kalau ayah pulang, kita bicarakan lagi, ya. Doakan saja! Ayah pasti pulang!"
Aku rasa itu doa yang bagus, aku akan ikut berdoa. Tapi kakak malah marah dan keluar rumah dengan wajah bengis.
***
Sampai hari ini ayah belum pulang. Pagi ini ibu datang lagi ke kamarku waktu aku masih tidur. Ibu membangunkanku untuk meminjam tabunganku lagi, katanya untuk modal jualan kue, aku diminta membantu membawa beberapa kue ke sekolah, katanya ibu sudah ijin sama Bu Guru. Aku mengiyakan saja, "Tapi nanti ibu belikan aku cat air sama buku gambar ya!" Ibu mengangguk dan tersenyum. Pulang sekolah aku sudah menemukan bahan-bahan kue di meja dapur, banyak sekali.
"Ibu mau buat apa?"
"Ibu mau buat roti kukus, lemper, ehm... kalau muffin gimana?"
"Aku suka muffin!"
"Boleh tapi nanti, makannya jangan banyak-banyak loh ya! Kan harus dijual!"
"Oke Bu Bos!"
Aku sudah membayangkan kue-kue buatan ibu, teman-temanku pasti suka. Aku saja suka! Dan satu lagi, aku senang hari ini ibu tidak menangis.
No comments:
Post a Comment