Whatever you want...

Thursday, October 23, 2014

Ibu

| No comment
"Siapa?"
Dahinya mengguratkan pertanyaannya. Pipinya masih basah oleh keringat, begitu juga dengan leher dan punggungnya. Sore telah menjauh dari mereka, lampu-lampu di seberang selat Madura yang menghampar seluas tatapan mata itu berhamburan seperti ribuan kunang-kunang yang beterbangan di atas pekat. Seperti titik-titik putih kuning merah yang memisahkan langit dengan bumi di bawahnya. Udara mendingin, tapi tidak juga mengusir panas yang mengalir dari letih ototnya. 
Perempuan di sebelahnya menatap entah ke mana, seperti terbang dalam sebuah gambar yang tak nyata, yang begitu saja tercipta di hadapannya. Setengah jam yang lalu dia masih perempuan yang diselimuti tawa yang tak habis-habisnya. Dia bisa menggerut-gerutkan giginya seperti geligi gergaji yang di digesekkan ke batang pohon raksasa. Bulu matanya yang tebal seperti membingkai sepasang mata yang utuh sempurna, yang menyimpan ratusan anak yang berlarian di pantai ketika matahari menjelang surut, dan pohon kelapa. Suaranya serak dan hilang pada nada-nada tingginya, kering namun membungkus hangat, seperti roti kering yang baru keluar dari panggangan. Bibirnya merona, tidak berpulas. Dan sebuah tahi lalat di ujung alis kanannya. Titik mungil yang dititipkan untuk menunjukkan bahwa dia dengan hidungnya yang bangir adalah segala keindahan yang dijejalkan dalam sebuah sosok manusia. 
Perempuan itu melihat foto 2R itu dengan menarik napas, tidak panjang. Namun cukup untuk membuatnya membuka kembali bibirnya, menekannya ke dalam dan membasahinya. Dan kilap air di bibirnya memantulkan bulan yang malu-malu. 
"Sari..."
Gadis kecil di foto itu tertawa riang pada sebuah pagi. Rambutnya lurus dipotong sebahu, tertiup angin ke sebelah kiri. Dia duduk mengangkat kaki, kedua lutunya disedekapkan di depan dada. Kepalanya miring sedikit ke kanan, rambut-rambut yang tertiup angin itu menutupi sebagian wajahnya yang meringis, menampakkan gigi depannya yang ompong. Keduat tangannya berpegang erat pada tali ayunan. Mungkin tiga atau empat tahun. Ibu jari si pria yang menggenggam gambar kecil itu seperti lengan seorang ayah yang melindungi anak gadisnya. Sekal dan perkasa. Seolah si gadis tertawa karena merasa aman dipeluk oleh jemarinya. 
Si pria mulai menduga-duga. Dan tentu saja benar pikirannya. Ada yang mendadak resah dalam dadanya. Seperti perasaan dingin yang menjalar hingga ke perut. Merayap dan menimbulkan sengat yang terpompa seperti kelenyar singkat pada sepenjuru tubuhnya. Seperti kesetrum. Ada perasaan yang mendadak memenuhi rongga dadanya, seperti merasa dibohongi. Tapi juga sebuah tanda tanya besar yang tidak begitu saja terjawab. Menekan tengkuknya hingga membungkuk dan mendenguskan napas beratnya. 
Namun juga ada sebuah perasaan lain yang menghangat, sepertinya berasal dari ibu jarinya, tertular dari tawa si gadis di dalam gambar. Menghapus segala dingin yang sejenak lalu menindihnya. Tawa gadis kecil itu memancarkan mentari yang menyapu kabut hatinya, tidak sepenuhnya sirna, namun separuhnya sudah menguap dalam hembusan napasnya. 
"Cantik!"
Perempuan di sebelahnya mengangguk, menelan rasa sakitnya, melepaskan tenggoroknya yang tercekat. Dia menatap wajah gadis kecil yang dikeluarkan dari dompetnya itu. Angin bertiup, rambut kedua orang itu berayun. Lembut saja.
"Di mana dia sekarang?" Lanjut si pria.
"Di Madiun bersama ayahnya..." Perempuan itu tak berani menatap si pria, "... suamiku."
"Apa yang mereka lakukan di Madiun?"
"Pertanyaannya, apa yang kulakukan di sini."
Si pria mengguratkan lagi garis-garis halus itu di dahinya. Menatap si perempuan. Si perempuan tersenyum, ada yang terasa begitu berat dalam suaranya. Dia berdehem, namun serak. Dia mendenguskan ah yang panjang. Lalu menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan. Mengusap ujung bibir kanannya. Dan menarik napas.
"Aku tujuh belas tahun. Waktu itu jaman lulusan SMA. Kami ... aku dan dia berparade keliling kota. Ngebut. Kami mengecat seragam kami. Menandatanganinya. " 
Pria itu tersenyum, si perempuan melanjutkan, "Orang-orang tentu saja protes sama seperti sekarang. Tidak sayang pakaian, mengganggu jalan. Tapi aku yakin orang-orang itu sebenarnya tak masalah, sambil membayangkan juga waktu mereka dulu lulus sekolah. Ayahnya, dia temanku, tidak ada apa-apa yang istimewa, hanya dekat saja. Sejak masuk SMA kami sama-sama saling tertarik aku rasa, tapi dia punya pacar, aku juga. Tapi hari itu kami bebas."
Si perempuan berhenti bercerita, menatap si pria. Dia mengingat saat pertemuan mereka. Si perempuan tampak gelisah bahkan ketakutan, dia tidak membawa apa-apa. Hanya tas coklatnya yang besar. Seperti gadis yang tersesat di Surabaya. Seperti gadis yang sedang mencari alamat namun tak menemukannya. Dia berhenti di depan pagar rumah si pria dengan . Begitu, si pria berbaik hati, lalu cerita-cerita mereka. Mencarikan kost, makan bersama, memasukkan lamaran-lamaran kerja. Dia bercerita kepada si pria bahwa kedua orang tuanya sudah tiada, dan memang benar demikian. Tapi tidak cerita yang lain. Dia diterima di sebuah toko waralaba, shiftnya malam, paginya dia kursus menjahit. Dia bermimpi punya fashion outlet sendiri, sampai suatu saat bisa punya merk sendiri. Tidak usah besar, lokal saja. 
Dan mereka berdua lalu dekat. Si perempuan menyaksikan kecemburuan kekasih si pria, saat mereka putus. Lalu mereka menjadi sepasang. Si pria akan menjemput si perempuan sepulang kerja, dan mengantarkannya kursus, menjemput malamnya, lalu makan bersama di pinggir jalan. Menjelma kekasih. 
"Akhirnya siang itu terjadilah. Yah begitu! Aku terpaksa menikah dengannya. Dan aku tahu bahwa dia pun terpaksa. Tapi Sari sudah ada, tidak mungkin kami menolaknya. Madiun bukan tempat impianku, sama sekali tidak pernah. Dia juga bukan. Aku rasa aku pun bukan bagian dari cita-citanya. Dia ingin kuliah, jurusan teknik mesin, atau elektro. Aku kepingin ke Jakarta, tapi hanya cukup sampai di sini. Tidak ada cita-cita kami yang sempat terjadi."
Aroma asin laut membuyarkan semua ceritanya, membuyarkan ingatannya. Menghadapkannya pada pilihan-pilihan yang tak nyaman. Tujuh bulan ini mereka berdua, dia dan si pria di sebelahnya, melanglang buana, menjelajah segala kemungkinan. Surabaya tentu sering menampar mereka begitu kerasnya, namun mereka berdua mengarunginya tanpa saling melepaskan. Dan perempuan itu menemukan labuhannya, pada sebuah bahu yang tegap dan lengan yang selalu menopangnya. Apa yang tak ditemuinya selama ini. Suaminya tak memberikannya. Lelaki itu hanya tidur dari subuh sampai tengah hari. Lalu pergi berkumpul dengan teman-temannya, sesekali menggendong Sari. Mereka seperti hidup sendiri-sendiri, walaupun sebenarnya mereka selalu berada di tempat yang sama. Kadang perempuan itu menginginkan si lelaki menamparnya, atau memukulnya sehingga mereka punya alasan untuk melepaskan ikatannya, namun tidak pernah. Suaminya hanya mengabaikannya, begitu saja seterusnya. Dia tidak juga ditinggal kepada yang lain, hanya dilupakan. Di rumah itu hanya ada dia dan Sari, atau Sari dan si lelaki.
"Kalian berpisah?"
Si perempuan menggeleng.
"Aku yang pergi."
Si pria memberikan kembali foto gadis kecil kepada si perempuan yang hanya nanar memandang foto itu. Menatap tawa si gadis membuatnya tertusuk sangat dalam. Dielusnya wajah si gadis dengan jarinya. Dia tersenyum.
"Maaf!" Si pria menatapnya.
"Untuk apa?"
Si pria mengangkat bahu.
"Aku yang harusnya minta maaf kepadamu."
Si pria menggeleng. 
Biasanya pada saat seperti ini, si pria akan menyediakan bahu untuknya. Tapi angin laut yang beralih dingin membuatnya semakin erat membungkus dirinya sendiri. Beberapa kali dia mengerjap, mengusir bayangan-bayangan resah yang seketika menjejali benaknya. Dia bisa saja marah atau pergi begitu saja dengan panas hati. Tapi kenyataannya dia tidak melakukannya. Untuk apa juga. Seperti ada yang menahannya, perasaan jahat jika dia meninggalkan si perempuan begitu saja, walaupun sebenarnya itu setimpal. Tapi tidak, dia bukan orang yang demikian. Atau memang sudah terbit sesuatu dalam hatinya, yang menghangat ketika dia memandang si perempuan. 
"Apa rencanamu sekarang?"
Si perempuan mengangkat bahu. 
Tags :

No comments:

Post a Comment