Aku memegang kelaminmu yang menegang. Salah, Sayang, kau salah seperti biasa.
Kau meraih daguku dan hendak menciumku. Aku menampikmu dengan lembut. Bukan itu, aku tak menginginkan ciuman itu. Jangan salah mengerti, Sayang!Sudah kuduga kita akan bertelanjang. Maka demikianlah sekarang. Kau menuju tempat di bawah sana, aku tak keberatan. Aku memegang kelaminmu yang penuh. Bukankah seharusnya sekarang kamu mulai bertanya-tanya. Tapi kamu tidak.
Aku hanya akan memegangnya, seperti biasa. Aku hanya akan mengelusnya lembut, seperti mengelus rambutmu. Dan ketika gemas itu, aku tak keberatan menciumnya. Tapi aku tak akan menelannya, karena memang bukan itu, Sayang, bukan itu! Aku akan puas memandanginya sepanjang malam, biarkan saja kau bergumul dengan permainanmu di bawah sana, aku tak keberatan.Biasanya setelah desahanku yang ketiga atau ketujuh kau akan berpaling padaku, dan memandangku dengan senyummu yang itu-itu juga.
Dalam beberapa menit kau akan menuntaskan ketelanjanganku, sedang kau masih kupaksa telanjang sampai pagi. Biasanya, sampai kau menjawab panggilan di teleponmu, “Maaf, Ma! Aku tertidur di kantor!” Seharusnya istrimu mulai bertanya-tanya, sama sepertimu yang seharusnya mulai bertanya-tanya.
Aku tak pernah puas, kalau kau ingin tahu. Tapi kau tak pernah bertanya. Aku tak keberatan, karena memang aku tak pernah menginginkannya.
Tiba-tiba hari ini berbeda. Ini desahanku yang ke tujuh puluh tujuh, tapi kau tak segera membalikkan badanmu. Kau justru mengangkat tubuhmu. Aku berharap kau tak pergi. Aku masih ingin memegang kelaminmu yang menegang. Dan tak perlu berapa lama, aku segera tahu kau tak ingin beranjak pergi. Kau berdiri persis di depanku. Kasur menceriatkan jeritannya karena berat badanmu. Kau masih sempat tertawa kecil. Dan kini kelaminmu persis di depan mataku. Aku tak pernah melihatnya begini. Hingga akhirnya kau merampas kelaminmu dari peganganku. Kau hendak menjejalkannya ke mulutku. Dan kau memaksakannya, bahkan hingga terlalu dalam.
Tiba-tiba ruangan ini menjadi terang dengan sinar yang menyilaukan. Suplir beraneka warna sesegera itu tumbuh di sepanjang dinding, kebanyakan berwarna coklat dan kuning. Menyeruak langit yang tiba-tiba terbuka, dan bisa kulihat angkasa penuh berisikan bintang-bintang dan wangi hutan pinus ketika pagi. Sebuah kesempatan yang tak akan berulang. Namun mendadak langit berubah merah. Semuanya berubah merah.
Aku mendengar tawaku dan jeritanmu. Aku merasakan kau memukul dan menendangku hingga jatuh dari kasur, sambil terus menjerit dan berkata bahasa najis.
Kelaminmu masih ada di mulutku. Gigiku masih mencengkeramnya. Aku masih tertawa. Aku mencabut seakarnya. Menyisakan lubang berwarna merah di selangkanganmu. Merah yang mengucur deras. Kasur dan selimut putih itu pun berubah merah. Bau anyir memenuhi kamar kita.
Sayang, aku tak pernah ingin berkelamin denganmu, aku hanya ingin kelaminmu. Sebagai gantinya kau boleh meminta kelaminku kalau mau.
No comments:
Post a Comment