Whatever you want...

Thursday, October 23, 2014

Bertemu

| No comment
Kau menghapusku, aku menghapusmu. Rumah ini sudah kosong selama delapan tahun. Sekarang ada ubi-ubi merah yang tumbuh liar di sepanjang parit. Mereka mengibarkan bau angus ketika kau meretas batangnya, seperti ada sisa aroma kebakaran besar empat tahun yang lalu itu. Ada lidah buaya juga, bahkan sampai ke batas jendela. Tahu, kan? Di sana dulu kita meletakkan dua buah kursi hijau dan sebuah meja kopi. Kita akan membakar sosis hingga ikan cethul. Sisa pembakarannya masih ada, percayakah kamu, hujan dan panas tidak menghapusnya, selalu ada yang dijaga sedemikian kuat oleh tanah. Sejarah. Mungkin dia tidak rela menghapus segala kenangannya bersama kita waktu itu. Rumput gajah, berlajur-lajur teki serupa sarang laba-laba. Dan ratusan bebungaan. Dafodil hingga bunga pukul empat. Katamu bunga pukul empat itu merusak mata, kau akan meralatnya kalau tahu ketika merimbun sebanyak ini! Seperti sorga! Lalu ketika menjelang jam tiga sore, bayang-bayang pohon sawo sebesar dua kamar kita itu akan memanjang sampai hilang bersama gelap.

Beringin yang tumbuh di sebelah gapura, yang kau bilang akan menjadi penyambut tamu-tamu agung, semakin menua [dan kita tertawa setiap kali berbicara bahwa sekalipun mereka ditanam bersama, tapi yang kiri lebih besar dari yang kanan, dan kau menyebutnya 'sakit boyok nih dua beringin!']. Sekarang mereka tumbuh menjulang, lebih tinggi dari bubungan depan. Burung-burung kadang menaungkan dirinya di sana. Pipit, parkit, kutilang. Dan pada suatu masa yang sangat tepat, mereka akan bersiut satu dengan lain, atau kadang tentu saja hanya diam. Oh ya, kadang perkutut juga. Burung yang kau bilang langka. Kau belum pernah ke Tanjung Seloka, di sana perkutut seperti semut.

Orang-orang berhiliran, dan mereka akan selalu sesekali memandang rumah itu, menyayangkan bahwa rumah sebesar itu dibiarkan saja. Museum, atau biar saja menjadi candi. Mungkin nanti anak-anak kan berlarian ke pelatarannya sambil menyanyikan lagu-lagu dolanan. Atau kalau ada anak desa yang hilang, mereka akan mencarinya ke sini, gegaranya khawatir anaknya digondol wewe.

Aku pergi ke mana saja beberapa lama ini, sepanjang kakiku bisa melangkah tentu saja.  Aku menjadi pejalan kaki hebat sekarang. Hal yang mati-matian tak kau percaya bisa kulakukan. Couch potato, ejekmu. Aku bisa. Kulitku sekarang jauh melegam, begitu juga dengan rambut. Lalu kerut-kerut sepanjang pesisir mata. Aku bisa melihatnya ketika mendekat kaca. Dan ketika aku membuka baju, akan ada batas yang begitu jelas antara dua warna, siang dan malam. 

Dan kau, kulitmu tidak bertambah kisut sedikit pun. Kini kau memulas bibirmu. Bajumu sutra dan gelang kecil dengan mata-mata mungil. Aku melihat di ujung gelang itu ada sebuah yang menggantung lebih berat dari yang lain. Benarkah itu anting kecil yang dulu kubelikan pada ulang tahunmu yang ke dua puluh dua? Rambutmu wangi, aku tahu bahkan tanpa harus menciumnya. Di beberapa larik kau menambahkan warna coklat muda, membuatnya seperti emas yang terserak di abu basah setelah semalam-malaman hujan berangin. 

Kau menyalamiku, aku menyalamimu. Aku mencoba tersenyum, tapi aku rasa aku tak sepenuhnya berhasil. Kau pun sama. Entahlah tetiba ada jarum kecil yang menusuk di dadaku tembus sampai ke punggung. Aku merasakan ngilu di tulang punggungku ketika menarik napas panjang. Kau menatapnya, menatap persis ke arah perih itu. Dulu kau akan tersenyum jumawa melihatku tak mampu berdiri. Tapi tatapanmu kali ini menceritakan kisah-kisah lain. Kisah malam yang ditegar-tegarkan, kisah pagi yang sendiri. Kau menghibur dirimu dengan pernyataan semua akan baik-baik saja. Dan kau tahu kau sedang berdusta. 

Tapi kita tahu bukan takdir kita untuk bersama. Kita hanya ditakdirkan bertemu. Ditakdirkan saling bersalaman. Mungkin sebentar bercanda, sambil menambahkan kayu pada tumpukan arang yang menyiratkan reremang. Saling bercerita tentang buku hingga tubuh yang ditemukan kaku di sebelah pabrik sepatu. Kita akan menghabiskan malam dalam tertawa. Lalu paginya kita akan saling menolak dan meniadakan. Saling menghapuskan.

Setelah delapan tahun ini, masihkah ceritanya akan sama? Kita sekarang berubah, aku iya, kau juga. Aku dengan petualanganku, kau dengan deretan mimpimu. Ternyata delapan tahun tanpa perjumpaan membantu kita menemukan diri kita masing-masing. Aku akhirnya tahu siapa sejatinya aku, dan aku melihatmu yang seutuhnya dirimu. Dulu ketika kita masih muda, perjumpaan selalu menghabisi kita masing-masing. Dan kita saling menyakiti jika tidak saling membunuh. Tapi bukankah kita tidak bisa saling membohongi, bahwa jauh di dalam sana kita akhirnya sepenuh-penuhnya tahu ada yang tidak meluntur bersama dengan tahun. Ya, kita.
Tags :

No comments:

Post a Comment